Menggadai Buku

Oleh : Jherio Wiranda

Siang hari ia menggerakkan seluruh tungkai kakinya untuk berjalan melintasi jalur setapak yang berada di pinggir lapangan kampus, ia mengamati dedaunan jatuh yang ada di sekitar matanya, berjalan lambat menggunakan sepatu All Star kesukaannya, membawa tubuhnya melangkah jauh melewati waktu.

Ia sangat suka menggunakan kemeja flanel, dan yang  unik darinya adalah tangan yang pasti selalu menggenggam buku dengan secarik kertas rokok sebagai pembatasnya.

Bagitulah, ia sesosok lelaki sederhana yang sering menyita waktu santainya untuk merenung di beberapa tempat dengan satu buku di pangkuannya. Sebut saja Riga, seorang mahasiswa di salah satu universitas di Makassar yang baru menginjak semester 4.

Riga percaya, selain berdiskusi, yang bisa membantunya mencari kebijaksanaan adalah buku. Riga selalu mengaku tak tahu banyak hal, akan tetapi semua temannya berkata bahwa Riga adalah sesosok lelaki cerdas yang tahu banyak hal. Riga senang sekali menyitir beberapa buku yang telah ia baca, pernah ia menyitir perkataan Socrates bahwa orang yang tahu adalah orang yang benar-benar tidak tahu.

Begitulah mungkin yang merasuki prinsip Riga setelah mendalami perkataan Socrates tersebut. Mungkin seharusnya memang begitu, orang yang tidak merasa tahu, pasti selalu merasa tak puas akan sesuatu hal, dan satu hal lagi, orang yang merasa tidak tahu akan menghargai pengetahuan sekecil apapun. Yang terpenting di sini adalah selalu mencari karena sadar karena kekosongan pengetahuannya.

Riga suka datang ke kampus lebih awal sebelum masuk jam mata kuliahnya, memang begitu kebiasaannya, selalu datang lebih awal dan mengambil tempat duduk paling belakang.

Riga mempunyai sahabat lawan jenis yang juga sekelasnya bernama Mila. Mila selalu kagum terhadap Riga. Rambutnya gondrong dan jarang di sisir, baju kusut tak disetrika, serta selalu memilih duduk paling belakang. Walaupun penampilan Riga urakan, tapi ia sosok mahasiswa yang akademis dan juga organisatoris, dan aktif mengajukan kritik ketika forum diskusi berlangsung dalam kelas.

www.seedbed.com

Terkadang mila datang lebih awal ketika banyak urusan atau satu hal hanya untuk bertemu dengan Riga. Mila suka mencuri waktu untuk mengobrol soal kampus dan jurusan, ataupun tentang perkembangan kediriannya setelah masuk dalam organisasi bersama Riga. Seperti biasa Mila mulai melontar kata agar obrolan terjadi.

“Itu buku apa?” ucap Mila.

“Ini buku penghancuran buku karya seorang kepala perpustakaan. Kenapa?”

“Boleh aku baca gak?”

“Bagaimana yah, aku juga masih dalam proses membacanya.”

Ohw, ya sudah.”

“Atau begini nanti aku antar ke rumah kamu saja setelah aku baca. Deal?”

“Oke deh,” sambil tersenyum ia memandang ke arah yang berlawanan dari tempat duduk Riga. Mila mulai menaruh rasa pada Riga, dan Nampaknya Riga diam-diam memberi perhatian kepada Mila.

Sejam waktu berlalu, mereka mengobrol banyak tentang sebab-sebab penghancuran buku, baik penyebab alamiah ataupun yang di sengaja seperti masalah fanatik agama, restorasi ilmu  pengetahuan, soal kekuasaan dan banyak lagi.

Mila dengan serius memperhatikan setiap gerak bibir Riga ketika menjelaskan, entah ia paham atau tidak yang jelas ia mendengarkan.

Tak lama waktu berselang, teman-teman mulai berdatangan, karena jam mata kuliah sebentar lagi dimulai.

Seorang teman mereka sempoyongan berlari mendekati tempat duduknya dan berteriak “Cuk, ada dosen, tepat di arah jam 4,” Riga pun agak sedikit menyiah keadaan kaku di kelas dengan mengomentari perkataan itu “dasar pemain pubg.” Keadaan pun lebur bersama tawa.

Waktu menunjukan pukul 5 sore pertanda mata kuliah Riga untuk hari ini akan segera berakhir, beberapa menit kemudian pak dosen mulai mengeluarkan kalimat-kalimat motivasi sebelum pamit untuk keluar ruangan.

Teman sekelas Riga mulai berhamburan meninggalkan ruangan, Riga berkata kepada Mila. “Mil, duluan aja pulang, aku ingin urus sesuatu, aku ingin selesaikan satu judul dalam buku ini.” Yah begitulah, buku itu terdiri dari beberapa judul yang bisa di baca random, suara Riga tenggelam akibat keributan, Mila mendekat dan Riga pun mengulangi perkataannya.

Ruangan kosong seketika, Riga masih tinggal membaca rentetan tulisan dalam satu judul di dalam buku tersebut. Sebelum maghrib, Riga menutup buku bacaannya serta memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan bergegas untuk menepati janjinya.

Riga mengambil motor dengan tujuan ke rumah Mila untuk membawa buku yang sudah dijanjikannya. Rumah Mila berjarak 4 km dari kampus, di tengah jalan lari motor Riga tersendat-sendat, ia lalu berhenti dan mendorong motornya ke tepi jalan.

Riga lalu terdiam sejenak dan mulai memeriksa, melihat-lihat serta meraba-raba apa kendala pada motornya itu. “Apanya yang masalah yah, ini motor juga kenapa mogok, gak kasihan apa aku lagi buru-buru.”

Masih memeriksa motornya dan ia membuka tangkinya, ia mengernyitkan dahi dan menepuk jidatnya sambil berkata “Ah, sial bensinnya habis, padahal penjual bensin masih jauh di depan.”

Tak ada pilihan lain selain mendorong motornya, ia juga lupa membawa handphonenya di kos. “Handphone juga lupa, gak bisa hubungin anak-anak, aduh.” Riga merasa ditemukan oleh kesialan sewaktu itu.

Ia mendorong motornya melewati jalan raya, bersama lalu lalang kendaraan, tak ada yang sudih menolongnya. Tak lama kemudian ia menemukan warung kecil di seberang jalan karena melihat apa yang ia butuhkan.

Menyeberanglah ia, sampainya di warung ia memberitahu bahwa ia akan membeli bensin, dimasukkanlah bensin ke dalam tangki motornya, kemudian Riga merogoh kantong celananya. Masih ditemukan kesialan katanya. “Ah sial lagi, sial lagi, uangku jatuh di mana.” Seingatnya sebelum ke kampus ia mengantongi uang sepuluh ribu di dalam kantong celananya, namun kini uang itu hilang, mungkin uangnya jatuh ketika mendorong motornya.

Riga memberanikan diri untuk bernegosiasi bersama penjual bensin itu, “Bu aku minta maaf, aku tak punya uang, aku hanya mempunyai buku di tasku, harganya 99 ribu, ibu juga bisa membacanya sebelum aku kembali, hanya itu milikku Bu.” Riga berniat menggadai bukunya sebagai jaminan sebotol bensin yang sudah ia masukkan dalam tangki motornya.

Sontak si penjual bensin itu termangu dan menimpali perkataan Riga. “Mau ku apakan buku itu? Tak ada guna,” Riga kembali mengerinyitkan dahinya, kok bisa ibu ini berkata begitu. Buku ini sangat berarti karena isinya dan ibu ini seakan-akan menganggap buku itu seperti pembungkus kacang, padahal kalau dari segi harganya yah buku ini unggul, dan juga di topang oleh isinya.

Kemudian Riga mengambil helm yang menyangkut di spion motornya. “Kalau begitu bagaimana jika helm saja.” Riga agak enggan melepas helm itu untuk ia gadaikan karena itu bukan miliknya. Masih belum ada respon baik dari penjual bensin itu. “Ya sudah Bu kalau begitu helm ini saja.”

Riga meletakkan helm itu di meja, dan memberi penjelasan kepada ibu penjaga warung, Riga pun segera pamit dan berkata “Bu nanti aku kembali lagi untuk menebus helm ini.” Riga langsung menuju motornya dan meluncur ke rumah Mila.

Setelah ia sampai di rumah Mila, ia menghampiri mulut pintu lalu mengetuknya, mengucapkan salam dan di bukalah pintu oleh Mila.

“kamu Ga, kok lama sih?”

“Tadi aku ngedorong motor Mil, bensinnya habis”

“Kasian kamu glGa (sambil tertawa sedikit)”

Ngeledek?”

Mereka pun duduk dan mengobrol di sepasang bangku yang terdapat di pelataran rumah Mila. Tak lama kemudian Riga berkata “Aku boleh pinjam uangmu Mil, soalnya tadi aku gak bawa uang, terus aku gadai tuh helm teman aku.”

Mila berjalan masuk ke kamar mengambil uang yang akan diberikan kepada Riga.

“Nih, gak usah dipinjam, ambil aja

“Tapi Mil, aku gak enak, uangmu besok aku balikin yah, uangku ada di kos.”

“Gak usah, malah aku kasian kamu jauh-jauh datang bawa buku ini.”

“Ya udah aku pamit, inget baca baik-baik buku itu, pahami.”

Lalu Mila menjawab “okey (dengan senyuman kecil penuh makna)”

Di tengah perjalanan menuju warung itu ia mengingat kembali kata-kata ibu si penjaga warung. Riga berkata dalam hati, bagusnya kita buang saja si penjaga warung itu di pulau pengasingan orang-orang yang malas membaca.

“Pantas saja Indonesia gak maju-maju, membaca saja dianggap remeh-temeh belaka, lantas kalau kurang bacaan bergizi nantinya kita kan gampang di bodohi.”

Masih menggunyam. “Aku mulai paham salah satu isi dalam halaman buku Dunia Shopie, di mana guru Shopie si Alberto Knox berasumsi bahwa, seseorang akan kekurangan ilmu pengetahuan ketika ia menganggap sesuatu itu biasa-biasa saja. Contohnya ibu tadi yang menganggap buku tidak penting.

Sekiranya ibu itu mengerti buku itu kugadai demi jaminan bensinnya, mungkin ia bisa membaca bacaan walaupun hanya satu judul dalam buku itu. Atau kalau aku cepat kembali, ia bisa membaca beberapa paragraf yang sarat makna, serta berisi banyak pembelajaran sebelum Riga datang menebus helmnya.

Wajar saja Indonesia tak maju-maju, banyak orang yang gampang dibodohi, toh ketika ia sudah tua dan menganggap belajar tak lagi jadi hal penting. Padahal dahulu filsuf tak punya sekolah, namun seperti orang yang terdidik.

Ia belajar dengan keteguhannya serta kegigihan mencari sesuatu, mengesampingkan umurnya, karena ia fikir kita adalah makhluk belajar yang tak mengenal umur. Lalu bagaimana bisa pelajaran oleh madrasah pertama (keluarga) itu bisa berkualitas jikalau kebanyakan orang-orang tua hanya menganggap buku itu cuma remeh-temeh belaka. Dianggapnya tak bisa memberi kita uang, cuma setumpuk kertas untuk pembungkus kacang.

Riga pun sampai di depan warung ibu tadi, ia menurunkan standarnya dan segera menghampiri si ibu dan segera menebus helmnya. Riga pun berbalik badan dan melanjutkan perjalanan untuk pulang.

Ia kembali berkata-kata dalam jalan.
Lalu apa kabar mahasiswa yang katanya terdidik? Bisakah kita mengubah pola pikir orang-orang yang mungkin kita anggap awam ini. Aku pikir kita harus mengobati kebiasaan-kebiasaan yang tak mendatangkan mudarat ke yang mendatangkan banyak mudarat.

Jika ibunya malas membaca dan belajar, lalu bagaimana dengan anaknya yang pasti mencontoh kebiasaan ibunya. Banyak memang aku temukan, bahwa seseorang jika sudah tua tak layak lagi belajar. Padahal kemarin waktu aku menonton acara TV Kick Andy ada seorang nenek tua berumur 80 tahun yang baru saja diberi penghargaan karena menyelesaikan S2 di usia itu.

Apakah para orang tua masih pura-pura buta dengan umur, katanya yang tak layak, dan pekerjaan yang paling penting padahal pekerjaan juga butuh pengetahuan. Mungkin anak-anak bosan ketika pembahasan orangtua hanya itu-itu saja. Seharusnya orang tua bisa jadi guru atas anak-anaknya, teman diskusi yang baik.

Riga berimajinasi ketika ibu-ibu tadi paham akan buku, mungkin ia akan sangat menerima Riga yang ingin menggadaikan buku. Lalu ia membaca walaupun hanya beberapa paragraf ataupun ketika Riga lama datang ia bisa menyelesaikan satu judul dalam buku itu sambil menunggu pembeli.

Mungkinkah kita bisa memberi pemahaman jika kita mendatanginya secara langsung?Entahlah. Riga memang selalu dalam kebingungan.

Lalu bagaimana jawaban anda?
Apa gerakan yang harus kita lakukan?

Penulis adalah mahasiswa semester 4 Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar

HMPII

DPP HMPII

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *