Pasca Banjir, HIMAJIP Bantu Pulihkan Perpustakaan Jeneponto

Oleh Muhammad Khudri Syam

Menindak lanjuti postingan di salah satu media sosial yang menunjukkan kondisi perpustakaan daerah yang terdampak banjir di kabupaten jeneponto. Kami dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (HIMAJIP) kemudian mengadakan pembicaraan mengenai langkah apa yang akan kita ambil. Dengan beberapa hal yang telah dipertimbangkan, akhirnya diputuskan untuk terjun langsung ke perpustakaan tersebut.

Miris, mungkin itu adalah kata pertama yang akan keluar dari mulut orang yang pertama kali melihat kondisi “jantung” dari sebuah daerah. Perpustakaan daerah yang berada di kabupaten Jeneponto adalah salah satu dari sekian banyak infrastruktur yang terkena dampak banjir yang terjadi pada 22 januari 2019.

Banjir bandang yang belum diketahui penyebab utamanya ini merendam perpustakaan setinggi kurang lebih 2 meter. Yang sangat disayangkan adalah banyak koleksi yang hanyut entah kemana. Apa lagi perpustakaan daerah ini baru saja menerima bantuan buku dari Perpustakaan Nasional yang sama sekali belum tersentuh. Menurut penuturan dari salah seorang pegawai, perpustakaan tersebut memiliki kurang lebih 6000 koleksi dan baru sekitar 3000-an yang telah terinput ke dalam sistem.

Kondisi buku pasca banjir

Koleksi yang telah terkubur bersama dengan lumpur di teras perpustakaan tak bisa lagi untuk di selamatkan, terpaksa buku beserta lumpur itu diangkut guna untuk sedikit membuka akses jalan. Belum lagi koleksi yang masih tersimpan di rak, juga sebagian bercampur dengan lumpur dan sebagian lagi sudah berjamur. Saya kemudian menanyakan kenapa koleksi ini dibiarkan tetap berada di rak saja? Kenapa tidak di lakukan pengeringan? Pegawai yang ada saat itu hanya menjawab kami tidak tahu harus melakukan apa lagi karna memang kami bukan berasal dari bidamg perpustakaan, kami ini notabenenya dari bidang kearsipan.

Perpustakaan daerah ini menjadi sarana bagi para mahasiswa dan pelajar yang berada di sekitaran perpustakaan ini. Salah satu koleksi yang cukup berharga adalah buku berjudul “Sejarah Turatea” yang ditulis oleh Kr. Tompo, penulis asal Jeneponto dengan jumlah eksemplar yang terbatas dan harga yang cukup mahal ini hanya beberapa saja yang masih bisa diselamatkan dan sebagian lagi kondisinya memprihatinkan.

Yang cukup disesalkan lagi adalah saat kunjungan dari dinas provinsi terkait yang menurut penuturan pegawai yang ada, mereka hanya mengatakan “kali nol” saja entah apa maksud dari kalimat ini tetapi rasanya itu tidak cukup pantas untuk diucapkan. Selayaknya mereka memberikan saja arahan mengenai pelestarian bahan pustaka atau sekiranya membantu menyelamatkan koleksi yang ada.

Akhirnya, sebagai bentuk dari kepedulian, salah satu dari anggota tim kemudian meminta izin untuk membawa satu eksemplar buku yang berharga tadi untuk dibawa ke dinas terkait untuk melakukan upaya rehabilitasi terhadap buku tersebut.

Penulis adalah mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar

HMPII

DPP HMPII

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *