Tatkala Air Menjamah Perpustakaan

Catatan Lawatan Sosial Mahasiswa Perpustakaan Untuk Memulihkan Perpustakaan Umum Kabupaten Jeneponto yang Terdampak Banjir

oleh Jherio Wiranda

Entah berapa juta ton buku dan media dokumentasi dari zaman kuno hingga sekarang yang memiskinkan kita dari harta kebenaran dan sampah kelam sejarah. Berapa tumpuk ingatan yang akan melawan penguasa, sehingga ia selalu menjadi hantu bagi pelakunya. Membuntuti buku lalu membayang-bayangi kemudian dibakarlah bersama ketakutan.

Berapa banyak buku yang ternodai saat anak-anak pemakan coklat menjatuhkan makanannya di lembaran buku hingga melumuri paragraf-paragraf yang berisi pembelajaran tentang makna magis. Dan manusia yang memicikkan mata atas buku dan teledor akan fisik dan kekuatannya.

Dalam buku “The Enemies of Books” karya William Blades dan buku “Penghancuran Buku” karya Fernando baez, dikatakan bahwa buku dalam substansinya adalah kertas yang mudah larut dan hancur.

Manusia adalah makhluk berfikir, memiliki fitrah untuk merasa iba, bersimpati dan empati. Namun demikian manusia juga memiliki ego, rasa akan kuasa, pencipta keadaan berideologi dan akan membentuk sebuah budaya kemudian akan melahirkan sebuah identitas. Dari identitas itu akan menimbulkan polemik kala pemilik identitas berlainan paham dengan yang lainnya.

Keadaan di ataslah yang menjadi landasan manusia untuk menghancurkan buku. Dalam dua buku tersebut dapat kita tangkap bahwa bukan manusia saja yang dapat menghancurkan buku, reaksi alam pun ikut andil, baik karena alam yang bereaksi sendiri-sendiri ataupun karena ulah manusia itu sendiri.

Seperti halnya banjir dan longsor yang merupakan reaksi alam. Kondisi tersebut berpeluang menghancurkan buku ketika proses dari gerak alam tersebut menjangkau  perpustakaan.

Pada tanggal 22 januari 2019, langit di Sulawesi Selatan dihiasi hujan yang cukup deras. Sejak malam hari hingga terbit mentari, hujan turun semakin deras. Pagi hari pun tersiar kabar bahwa salah satu jembatan ikon di kabupaten Gowa mengalami retak dan beberapa daerah sudah mulai terendam. Desas desus ini kemudian mulai viral melalui smartphone dan media sosial. Beberapa saat setelah  informasi mengenai banjir tersebut tersiar, perlahan kebenaran peristiwannya diketahui.

Siang hari didapati kabar bahwa kabuoaten Jeneponto pun sudah mulai terendam banjir. Terdapat beberapa titik yang kemudian sudah mengalami banjir yang cukup tinggi dan membuat beberapa rumah, kantor dan area persawahan menjadi rusak. Hingga dini hari banjir masih merendam meskipun air sudah agak surut.

Pada tanggal 30 januari 2019, sengaja aku menyematkan grup-grup WhatsApp yang kuanggap penting. Yah, mungkin aku harus selalu update tentang perbincangan-perbincangan serius yang kadang menggelitik dalam grup, khususnya grup jurusanku yakni Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (HIMAJIP).

Sumber gambar jessbarga.wordpress.com

Hari itu salah seorang seniorku di jurusan meng-upload foto kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Jeneponto yang kondisinya sangat memprihatinkan akibat terkena banjir. Melewati satu fokus diskusi, muncul wacana untuk berangkat ke tempat tersebut. Aku lalu memilah-milah kesibukan, dan aku menganggap tak ada kesibukan yang baik selain pergi ke perpustakaan itu. Yah, mungkin karena beban moral kami selaku mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan yang tahu pentingnya perpustakaan sebagai kebutuhan dasar manusia untuk berkehidupan, jadi kami mengarahkan diri berpartisipasi dalam pemulihan perpustakaan tersebut.

Keesokan harinya kami langsung bergegas. Kami pun mendekati area bekas banjir. Di sepanjang dan di kiri-kanan jalan, terlihat rumah-rumah yang terkena dampak banjir. Lumpur menggumpal memenuhi daerah tersebut. Hanya sedikit yang sudah mengering, sampah berserakan di mana-mana. Banyak yang memperbaiki dan mengumpul puing-puing yang masih bisa dimanfaatkan dari sisa-sisa banjir yang masih bisa digunakan.

Sekejap hening menyelimuti melihat fenomena tersebut, ada rasa duka yang mencuat akibat kondisi itu, mungkin aku sedang berempati, suara lalu lalang kendaraan hanyut dalam tak kumaknai. Pekikku di atas motor “ah, mungkin dewa air murka”, teman-temanku pun menatap aku dengan sinis akibat pekik yang kuanggap candaan itu.

Tak lama, tibalah kami di kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Jeneponto. Kondisinya tak jauh berbeda dengan apa yang aku lihat dengan teman-temanku di sana. Aku bertanya-tanya kepada temanku, walaupun pertanyaanku tak menemukan jawaban yang benar karena kupikir bukan ia yang tahu persis apa penyebab sehingga kondisi perpustakaan ini tak jauh beda dengan gambaran yang ada di foto. Dan aku kembali membalas pertanyaanku dengan pernyataan, “untuk mengetahuinya, ayo langsung kita masuk dan bertanya kepada staff atau kepala dinasnya”.

Kami pun bergegas memasuki pelataran, tak peduli lumpur, kami menenggelamkan kaki dengan harapan bahwa semoga perpustakaan ini cepat pulih dari tidurnya. Tak sempat bertanya tentang apa penyebab sehingga perpustakaan masih seperti ini-ini saja, salah seorang seniorku menggulung lengan kemeja flanelnya dan mengangkat celana levisnya hingga mencapai lutut, lalu ia berkata, “sudah, kerjakan saja, kalau cuma dikomentari terus, perpustakaan ini tak pulih-pulih, yang ada hanya perdebatan panjang tanpa pemecahan nantinya”.

Saat merasa lelah, kami pun memutuskan untuk beristirahat. Tak lama kemudian kami berkeinginan untuk masuk ke dalam perpustakaan. Setelah minta izin, Kami bertebaran dalam ruangan, melihat-lihat dan mengamati keadaan dalam perpustakaan, sembari berfikir apa-apa yang bisa kami bantu nantinya. Memang parah, airnya setinggi kurang lebih 2 meter dan hampir mencapai susunan rak paling atas. Koleksi-koleksi perpustakaan yang baru akan di klasifikasi hanyut terendam lumpur di pelataran.

Aku kembali menggunyam “wah, dewa air marah”. Sesekali jika ada kesempatan aku melontar pertanyaan kepada temanku yang tinggal tak jauh dari tempat ini. “Kamu tahu penyebab meluapnya sungai ini?”, dia bertanya kembali “sungai  kelara?” Yah, katanya sih bendungan yang masih dalam tahap pengerjaan itu ada beberapa bagian yang jebol. Itu juga masih asumsi saja karna pihak terkait belum melakukan klarifikasi tentang apa sebenarnya yang menjadi alasan utama.

Sore pun menjemput, kami pun pamit untuk pulang dengan niat ingin kembali lagi besok. Kami pun tiba di rumah teman, sebelum itu kami sempatkan singgah di salah satu sungai yang di mana alirannya itu cukup deras. Yah, untuk membersihkan badan serta pakaian kami yang kotor akibat lumpur. Kami lalu disuguhkan makanan berat yang bagi kami sangat luar biasa hari itu. Setelah itu kami lanjutkan dengan bercengkrama, bercerita tentang jurusan, tentang masalah kampus, dan tak lupa rencana tentang apa-apa yang harus dilakukan besok di perpustakaan.

Pagi pun menjemput, kami bangun satu persatu. Tak bisa dipungkiri ada yang harus dibangunkan akibat tidur, adalah zona nyaman ketika selepas bekerja berat-berat. Tepat setengah sembilan kami kembali menuju lokasi. Saat kami tiba, para pengelolanya menyambut dengan senyum, dan kami maknai mereka bahagia atas kedatangan kami.

Pertanyaanku dalam gunyam, mengapa perpustakaan ini keadaannya selalu begitu-begitu saja tanpa ada perubahan, padahal waktu seminggu sudah melewatinya. Seorang teman mengecek struktur organisasi tersebut, ia berjalan keluar dengan agak sempoyongan dikarenakan lantai yang licin akibat lumpur. Ia berbisik, seperti mendikte kami, “wajar saja, pengelolanya perempuan semua, tak banyak lelaki”. Seseorang lalu menimpali, “wah, wajarlah kalau begitu”.

Kami pun kembali bekerja, seperti kemarin kami fokus di pelataran, banyak buku yang hancur sudah larut bersama air dan tanah, tak lagi berwajah buku, ia seperti bubur kacang hijau saat dibayangkan. Kami kembali membersihkan kaki sebelum masuk kembali ke dalam perpustakaan, kami berbincang-bincang sambil bekerja dengan para staff di sana.

Aku melihat lemari di rak paling belakang dibuka. Di dalam lemari itu kami melihat koleksi dalam bentuk kaset yang penuh lumpur. kami lalu membersihkan kaset tersebut dengan membawanya keluar ke pelataran, karena tepat di pelataran ada tandon air, beberapa galon, dan tempat sampah yang dialihfungsikan sebagai penampungan air.

Setelah semuanya bersih. Kami kembali mencuci kaki dan masuk kembali ke dalam perpustakaan. Aku menuju sebelah kiri ruangan, tepat di belakang lemari aku mendapati banyak buku-buku yang belum hancur padahal telah tertelan banjir. Beberapa buku itu ada yang di simpan dalam karung. Aku dan teman-teman langsung mengeluarkannya dari karung dan meletakkannya di lantai guna diangin-anginkan, berharap kandungan airnya bisa menguap. Tentunya sangat disayangkan, aku mendapati buku sejarah turatea. Kata salah seorang staff perpustakaan, harganya berkisar lima ratus ribu per-buku. Aku menimpali, bukan harganya yang disayangkan, tapi isi dan informasi yang ada di dalam buku itu.

Aku masuk ke dalam ruangan yang ada di sudut kanan depan perpustakaan, terlihat beberapa karung berisikan buku. Juga beberapa buku yang tergeletak di lantai. Aku lantas membuka jendela dengan harapan semoga angin dan uap panas yang diantarkan oleh cahaya matahari bisa mengobati buku-buku ini.

Terlintas dalam benakku, “Kok bisa yah perpustakaan didekatkan dengan sungai yang tentunya suatu saat akan menyebabkan banjir dan bisa merusak koleksi-koleksinya. Kok perpustakaan ini tak dipindahkan saja ke daerah seberang jembatan yang posisi tanahnya agak tinggi.

Di beberapa rak masih ada buku yang saling melekap keras, bahkan berjamur, akibat lumpur yang mengendap. Keadaannya masih sangat lembap, kami kebingungan kenapa koleksi tersebut di simpan saja tak diselamatkan guna observasi. “Akupun mewakili teman-teman untuk bertanya kepada salah seorang lelaki yang entah jabatannya apa, yang jelas keliatannya umurnya paruh baya.

“Pak mengapa buku di rak itu tidak dilepas saja? Lalu kita pilah yang mana yang masih bisa kita perbaiki”. Ia lalu membalas perkataanku, “biarkan saja, nanti bukunya terkelupas”, dahiku mengernyit, aku heran mendengarnya.

Aku kembali menggunyam, kenapa bisa perpustakaan ini tak dibuat pulih, padahal waktu seminggu sudah melewatinya. Di saat yang sama waktunya menjelang waktu ujian para civitas akademik, yang sudah seharusnya akan dihampiri oleh pelajar dan mahasiswa. Mengapa bukan perpustakaan yang diperhatikan terlebih dahulu sebelum itu. Tak sayangkah mereka terhadap banyak informasi yang bermuatan budaya hancur akibat air. Aku pikir masih ada beberapa yang bisa di selamatkan.

Salah seorang staff perpustakaan lalu merespon dengan berkata, “Dik, sebenarnya perpustakaan itu dikucilkan, asumsi khalayak bahwa perpustakaan adalah tempat pembuangan”.

Aku masih ingin berdiskusi panjang lebar tentang asumsi yang merendam banyak kepala di daerah itu, namun tak ada waktu, aku sangat menyayangkan hal itu. “Ohw jadi itu membuat perpustakaan tak cepat pulih dalam waktu lama ini”, aku hanya mengelus dada, menatap perpustakaan dengan mata sayu, seakan putus asa menemukanku. “Aku rasa kita tak perlu berputus asa, kita kerjakan apa yang bisa kita kerjakan, mari lanjut bekerja”.

Kembali terbayang dalam benakku tentang penegasan-penegasan beberapa pemerhati perpustakaan bahwa “jika kau ingin menghancurkan suatu wilayah atau negara maka hancurkanlah perpustakaannya”, ataukah abaikan ia ketika bencana sudah melandanya.

Aku pikir memang begitu, perpustakaan adalah sebuah wadah ingatan, pembelajaran, serta gambaran-gambaran muatan lokal suatu daerah, jika ingin dibuat seperti bayi yang tak kenal apa-apa, yah hancurkan saja perpustakaannya. Guyonanku teringat kembali, “wah dewa air marah”, aku mengingat kondisi kemarin di sekitaran sungai tempat kami bersih-bersih sebelum menuju langsung ke rumah temanku.

Luasnya pembukaan lahan kudapati, lahan yang dialihfungsikan sehingga tak banyak area resapan air, yang kemudian akan membuat air murka tak terserap, dan salah satu korbannya adalah perpustakaan. Mungkin karena manusia mengabaikan ekologi.

Penulis adalah mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar

HMPII

DPP HMPII

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *