Perpustakaan dan Sepakbola

Oleh: Asril Sapli

Mungkin sulit dijelaskan hubungan antara perpustakaan dan sepakbola. Hal ini dikarenakan perbedaan media yang digunakan serta bagaimana instrumen dari kedua hal tersebut, akan tetapi penulis akan mencoba mencari persamaan antara perpustakaan dan sepakbola. Semua orang pasti kenal dan senang dengan olahraga sepakbola. Bahkan orang rela berkorban baik secara materi maupun tenaga untuk dapat menikmati olahraga satu ini. Masing-masing individu juga pasti memiliki alasan sendiri kenapa menyukai sepakbola, dan itu tergantung sudut pandang apa yang mereka pakai.

Tidak ada literatur yang pasti tentang asal mula permainan sepakbola, akan tetapi secara historis sepakbola berasal dari  peradaban China. Mulanya sepakbola dimainkan dengan menggunakan bola kulit, dimana bola tersebut ditendang ke dalam jaring. Permainan tersebut semakin lama semakin berkembang di setiap peradaban. Dan pada akhirnya muncullah sepakbola modern yang diperkenalkan oleh Inggris dan menghasilkan beberapa regulasi serta sistem yang dapat dianut serta dapat diterapkan oleh semua orang di dunia hingga sekarang ini.

Dalam sepakbola, membutuhkan sebuah bola untuk dapat dimainkan, dan terdiri atas dua tim berlawanan yang masing-masing berjumlah sebanyak sebelas orang. Untuk bermain sepakbola masing-masing tim berusaha memasukkan bola ke dalam gawang lawan atau biasa disebut dengan goal. Hal yang paling utama adalah sepakbola adalah bola itu sendiri. Bola menjadi instrumen yang paling penting dalam permainan sepakbola karena bola menjadi titik fokus semua individu baik yang berada di dalam lapangan bermain dan orang lain yang sedang menonton sepakbola. Akan tetapi tentunya bola tidak bernilai apabila tidak dimainkan oleh pemain. Pemain tentunya perlu melakukan latihan secara terus menerus dan dilakukan secara bertahap dengan kedisplinan yang tinggi agar dapat memainkan atau mengolah bola dan dapat mencetak goal. Tentunya bisa membuat para penikmat sepakbola atau penonton merasa puas dengan permainan yang disajikannya di lapangan.

Animo masyarakat dalam menonton sepakbola tentunya tidaklah sedikit, hampir di setiap pertandingan sepakbola stadion selalu penuh. Hal ini menujukkan bahwa tingkat anomi masyarakat dalam menonton sepakbola sangatlah tinggi. Bukan hanya yang berada di stadion, akan tetapi animo masyarakat dalam menonton sepakbola tersebar sudut-sudut kota serta di rumah. Hal ini juga didukung dengan adanya media teknologi informasi yang memungkinkan masyarakat luas dapat mengaksesnya kapanpun dan dimanapun berada.

Image by annhamiltonstudio.com

Lantas apa persamaan antara sepakbola dengan perpustakaan? Dalam konteks kepustakawanan antara perpustakan dan sepakbola memiliki persamaan. Perpustakaan dan sepakbola masing-masing berfungsi sebagai sebuah wadah penyaluran suatu hobi atau informasi dari masing-masing individu. Dengan kata lain, keduanya bisa dikatakan sebagai rumah atau kerangka dari masing-masing konteks yang dibahas. Sepakbola menjadi suatu wadah penyaluran hobi yang menyenangi olahraga sepakbola, sedangkan perpustakaan menjadi wadah untuk penyebaran sumber informasi yang dapat berguna untuk orang banyak. Perpustakaan menjadi center point bagi penyebaran informasi yang ada di sekitaran kita, serta menjadi tempat berkumpulnya segala informasi. Perpustakaan harus terus diberdayakan dan dikembangkan agar para masyarakat merasa puas dan merasa terbantukan dengan adanya perpustakaan.

Persamaan yang lain dapat dilihat dari aspek sumber dayanya. Bola yang menjadi instrumen utama dalam permainan sepakbola, sementara dalam konteks kepustakawanan juga diibaratkan sebagai bahan pustaka atau koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Sepakbola apabila tidak adanya bola maka sepakbola tidak ada artinya. Sama halnya dengan bahan pustaka. Bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan menjadi hal yang paling penting untuk mendukung dari fungsi dari perpustakaan. Tujuan akhir dari keberadaan bahan pustaka di perpustakaan adalah sebagai media penyebaran sumber informasi yang valid.

Selain itu, keberadaan pemain dalam olahraga sepakbola dapat diibaratkan sebagai pustakawan. Keberadaan bahan pustaka apabila tidak dapat dikelola dengan maka bahan pustaka sama saja tidak dapat digunakan. Pemain sepakbola berusaha dengan keras untuk menyajikan permainan terbaiknya untuk dapat mencapai tujuannya. Sama halnya dengan pustakawan, pustakawan harus berusaha dan mencari cara untuk koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan dapat disajikan dengan baik oleh semua orang yang berkunjung ke dalam perpustakaan. Dalam konteks ini, pustakawan harus kreatif mengemas informasi yang dimiliki oleh perpustakaan dan menyajikannya dengan kreatif, guna untuk mencapai tujuan dari perpustakaan. Karena tujuan diadakan pelayanan di perpustakaan adalah untuk melayani para pemustaka di perpustakaan.

Dan yang terakhir antara penonton sepakbola dengan pemustaka. Jika penonton sepakbola mencari kepuasan untuk dapat melihat indahnya permainan yang disajikan antara masing-masing pemain dan menginginkan sebuah goal, maka pemustaka juga menginginkan sebuah informasi yang dimiliki oleh perpustakaan. Pemustaka adalah orang yang berkunjung dan menggunakan fasilitas serta koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan guna mendapatkan sebuah informasi. Pemustaka mencari informasi yang telah disajikan oleh pustakawan. Dan pemustaka menikmati dan merasa puas dengan yang apa telah disajikan oleh pustakawan. Namun hal ini bisa terjadi apabila pustakawan menyajikan informasi dengan sebaik-baiknya.

Dengan adanya beberapa persamaan antara perpustakaan dan sepakbola, menjadikan kita lebih sadar akan dunia kepustakawanan. Jika sepakbola menjadi trendsetter bagi segala macam manusia, perpustakaan juga  harus menjadi trendsetter bagi masyarakat luas. Jika pemain sepakbola menjadi terkenal karena kepiawaiannya mengolah si kulit bundar maka pustakawan harus juga piawai dalam mengelola sumber informasi atau koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Agar para pemustaka dapat selalu untuk berkunjung dan menggunakan fasilitas serta koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan.

Jangan minder atau malu apabila telah berstatus sebagai mahasiswa jurusan perpustakaan atau sudah berstatus sebagai pustakawan. Dan jangan karena merasa terpaksa sebagai mahasiswa di jurusan perpustakaan karena tidak lulus di jurusan yang anda inginkan. Kita harus bisa selangkah di depan daripada profesi-profesi lainnya. Tunjukkan bahwa profesi pustakawan bisa bersaing dengan profesi-profesi lainnya. Dan syukurilah karena kita semua masih diberi hidayah oleh-Nya untuk lebih dekat dengan informasi. Karena apabila kita dekat dengan informasi maka kebenaran akan juga mengiringi.

Penulis adalah Alumni Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar

HMPII

DPP HMPII

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *