Transformasi Perpustakaan Sebagai Ruang Literasi dan Pengembangan Masyarakat

Transformasi perpustakaan adalah sebuah keniscayaan. Prinsip ini berlaku sebab perpustakaan ibaratnya organisme yang hidup. Sebuah lembaga kebudayaan yang hakikat dan eksistensinya tak boleh tertinggal. Karena itu, perpustakaan senantiasa beradaptasi dengan IPTEK dan koheren dengan dinamika ekonomi, sosial dan budaya.

Dewasa ini perpustakaan tak lagi sekedar medium untuk beraksara. Tetapi kini bertransformasi menjadi ruang yang berusaha memfasilitasi terwujudnya ekosistem yang literat. Perpustakaan yang semula lekat dengan program literasi dasar (keterampilan membaca dan menulis), kini potensinya semakin kompleks. Hal ini sejalan dengan istilah literasi yang bergerak pada ranah yang kian luas dan berkembang. Ihwal ini relevan bagi perpustakaan agar tumbuh dan merespon fenomena mutakhir, serta membentang inspirasi-imajinasi bagi masyarakat.

Geliat literasi yang tumbuh akhir-akhir ini dapat menyebarkan angin segar bagi pengembangan perpustakaan dan kepustakawanan Indonesia. Khususnya bagi perpustakaan yang bergerak di lingkungan dan komunitas ‘akar rumput’ dengan misi pemberdayaan masyarakat. Kesadaran kolektif ini sekaligus menebarkan keterlibatan berbagai elemen untuk bersama mendorong keberaksaraan.

Munculnya beragam gerakan literasi di berbagai pelosok tersebut kiranya memantik mahasiswa perpustakaan dan Informasi mereplika spirit kepustakawanan dan membangun integrasi. Melalui Himpunan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi (HMPII) sebagai ruang dialektika dan sinergi, diharapkan mampu menerbitkan paradigma perihal makna literasi dan gerakan yang konstruktif. Orientasi dari pertemuan Kongres HMPII VI dan Seminar Nasional menjadi evaluasi dan motivasi bagi kepustakawanan dalam rangka pengembangan masyarakat melalui perpustakaan. Kunjungi grup Facebook Kami Official HMPII VI

HMPII

DPP HMPII

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *